Wednesday, 19 October 2011

Keberanian dan Ketabahan Rasulullah





E-mail
Written by Administrator   
Friday, 27 February 2009 00:58

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mempunyai keberanian yang mengagumkan
dan tiada tandingannya dalam membela agama dan menegakkan kalimatullah
Ta'ala. Beliau mempergunakan nikmat-nikmat Allah Ta'ala yang dicurahkan
atas beliau pada tempat yang semestinya. 'Aisyah radhiyallahu 'anha telah
mengungkapkan hal itu dalam sebuah hadits:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul
seorangpun kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita." (HR. Muslim)

Di antara bukti keberanian beliau adalah kegigihan beliau dalam mendakwahkan
agama Islam seorang diri menghadapi kaum kafir Quraisy dan pemuka-pemuka-nya.
Demikian juga keteguhan beliau di atas keyakinan tersebut hingga Allah menurunkan
pertolongan-Nya. Beliau tidak pernah mengeluh atau berkata: "Tidak ada yang sudi
menyertaiku, sedangkan orang-orang semuanya memusuhiku." Akan tetapi beliau
bersandar serta bertawakkal kepada Allah dan tetap meneruskan perjuangan
dakwah beliau.

Beliau adalah seorang pemberani dan sangat teguh dalam memegang dan
melaksanakan pendirian. Ketika orang-orang lari bercerai berai, beliau tetap
teguh bagaikan karang.

Beliau mengasingkan diri untuk beribadah di gua Hira' selama beberapa tahun.
Kala itu beliau belum merasakan gangguan dan orang-orang Quraisy pun belum
memerangi beliau. Kaum kafir itu tidak menembakkan sebatang anak panah
pun dari busurnya kecuali setelah beliau menyebarkan aqidah tauhid dan
memerintahkan untuk memurnikan ibadah mereka kepada Allah semata.
Beliau sangat mengherankan ucapan kaum kafir sebagaimana yang difirmankan
Allah :
"Katakanlah: "Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau
siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan
siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan
yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan"
Maka mereka menjawab:"Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak
bertaqwa (kepada-Nya)?" (Yunus: 31)

Sementara itu mereka menjadikan berhala-berhala sebagai perantara antara mereka
dengan Allah . Sebagaimana yang Allah firmankan:
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak
menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah
dengan sedekat-dekatnya". (Az-Zumar: 3)

Padahal mereka juga meyakini tauhid Rububiyah, sebagaimana yang diungkapkan
Allah , artinya:
"Katakanlah: "Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?"
mereka akan menjawab: "Allah".

Wahai saudaraku, lihatlah praktek-praktek syirik yang bertebaran di seantero
negeri-negeri kaum muslimin, seperti memohon kepada orang yang sudah
mati, bertawassul dengan perantaraan mereka, bernadzar karena mereka, takut
serta mengharap kepada mereka. Sampai-sampai terputus hubungan antara
mereka dengan Allah Ta’ala disebabkan kemusyrikan yang mereka lakukan.
Mereka telah menempatkan orang-orang yang sudah mati setara dengan
kedudukan Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (se-suatu dengan) Allah,
maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." (Al-Maidah: 72)

Sekarang kita beranjak dari rumah beliau menuju gunung yang berada di
sebelah utara. Itulah gunung Uhud, disitulah terjadi peristiwa besar yang
menunjukkan keperkasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan
keteguhan serta kesabaran beliau atas luka yang diderita pada peperangan
tersebut. Pada waktu itu wajah beliau yang mulia terluka dan beberapa
gigi beliau patah serta kepala beliau terkoyak.

Sahal bin Sa'ad t menceritakan kepada kita tentang luka yang diderita beliau .
Ia berkata: "Demi Allah, aku benar-benar mengetahui siapakah yang
mencuci luka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, siapakah yang
menyiramkan airnya dan dengan apa luka itu diobati." Ia melanjutkan:
"Fathimah radhiyallahu 'anha putri beliaulah yang mencuci luka tersebut,
sementara Ali bin Abi Thalib Radhiallahu'anhu menyiramkan airnya dengan
perisai. Namun ketika Fathimah radhiyallahu 'anha melihat siraman air tersebut
hanya menambah deras darah yang mengucur dari luka beliau, ia segera
mengambil secarik tikar lalu membakarnya kemudian membungkus luka
tersebut hingga darah berhenti mengucur. Pada peristiwa itu gigi beliau patah,
wajah beliau terluka dan kepala beliau terkoyak lebar." (HR. Al-Bukhari)

Al-Abbas bin Abdul Muththalib radhiallaahu anhu menceritakan
kepahlawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam peperangan
Hunain. Ia berkata: "Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam justru memacu bighalnya ke
arah pasukan kaum kafir, sementara aku terus memegang tali kekang
bighal tersebut supaya tidak melaju dengan cepat. Saat itu beliau berkata:
"Aku adalah seorang nabi bukanlah pendusta. Aku adalah cucu Abdul
Muththalib." (HR. Muslim)

Sementara itu, penunggang kuda yang gagah berani, yang sudah
masyhur dan terkenal dengan kisah-kisah kepahlawanannya,
yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiallahu'anhu menceritakan keberanian
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai berikut: "Apabila dua pasukan
sudah saling bertemu dan peperangan sudah demikian sengit, kamipun
berlindung di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tidak ada
seorangpun yang paling dekat kepada musuh daripada beliau."
(HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah , silakan lihat di dalam Shahih Muslim
III / no.1401)

Kesabaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam e dalam menyebarkan dakwah
pantas dijadikan contoh dan teladan yang baik. Hingga akhirnya Allah
Ta'ala menegakkan pilar-pilar Islam dan melebarkan sayapnya di segenap
pelosok jazirah Arab, negeri Syam dan negeri-negeri di seberang sungai
Tigris. Hingga tidak tersisa satu rumahpun kecuali telah dimasuki cahaya Islam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror dan ancaman karena
membela agama Allah . Dan tidak ada seorangpun yang mendapat teror
seperti itu. aku telah mendapat berbagai macam gangguan karena
menegakkan agama Allah . Dan tidak seorangpun yang mendapat gangguan
seperti itu. Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam, aku dan
Bilal tidak mempunyai sepotong makanan pun yang layak untuk dimakan
manusia kecuali sedikit makanan yang hanya dapat dipergunakan untuk
menutupi ketiak Bilal." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Walaupun harta dan ghanimah serta perbenda-haraan dunia dari kemenangan
yang diberikan Allah kepada beliau terus mengalir, namun Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam tidak mewariskan sesuatupun kepada umatnya, tidak dinar
maupun dirham, beliau hanya mewariskan ilmu. Itulah warisan nubuwat,
barangsiapa yang ingin mengambilnya, maka silakan maju untuk
mengambilnya dan selamat berbahagia menerima warisan yang agung itu.

'Aisyahradhiyallahu 'anha menuturkan:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak meninggalkan dinar, tidak
pula dirham, tidak meninggalkan kambing, tidak pula unta. Beliau
tidak mewasiatkan harta apapun." (HR. Muslim) 

No comments:

Post a Comment