Saturday, 10 December 2011

Hikmah peristiwa Gerhana.....

Hikmah Dibalik Peristiwa Gerhana

referensimuslim.com - Tentunya kita sebagai muslim mengambil hikmah dibalik peristiwa alam seperti ini, berikut adalah penjelasan dan hikmah mengenai peristiwa gerhana baik yang disebutkan dalam Al Quran ataupun hadits shahih.

Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tanggal 16 Juni 2011 akan terjadi gerhana bulan total terlama pada tahun ini sekitar satu jam setengah.Gerhana 16 Juni nanti akan dimulai pada pukul 01.23 WITA yang ditandai dengan masuknya Bulan ke bayangan penumbra Bumi. Perubahan yang terjadi adalah berkurangnya kecerlangan Bulan, namun kita tidak akan dapat membedakannya secara kasat mata. Lalu pada pukul 02.22 WITA Bulan akan masuk ke umbra Bumi. Tentunya kita sebagai muslim mengambil hikmah dibalik peristiwa alam seperti ini, berikut adalah penjelasan dan hikmah mengenai peristiwa gerhana baik yang disebutkan dalam Al Quran ataupun hadits shahih.

Dalil Gerhana Menurut al Quran dan As Sunnah: 
Allah berfirma: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak (penuh hikmah dan tidak sia-sia) dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui. (QS. Yunus: 5)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah. (QS. Fushilat: 37)

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : { انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَوْمَ مَاتَ إبْرَاهِيمُ ، فَقَالَ النَّاسُ : انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إبْرَاهِيمَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا ، فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ، وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ " حَتَّى تَنْجَلِيَ " 
وَلِلْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : " { فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ } "
Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw, yaitu pada hari wafat Ibrahim (anaknya), maka orang-orang (pada saat itu) berkata: telah terjadi gerhana matahari karena Ibrahim wafat. Lalu Rasulullah Saw bersabda: sesungguhnya matahari dan bulan diantara dua tanda kekuasaan Allah, bukan karena meninggal atau lahir seseorang, apabila kalian melihat keduanya (gerhana matahari dan bulan) berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga terbuka (gerhana tersebut selesai). HR. Muttafaq Alaih
Adapun menurut riwayat Imam Bukhari: “Hingga terang (kembali)”.
Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Bakrah radhialluhu’anhu: “Maka shalat dan berdoalah sampai terbuka (gerhana tersebut selesai) diantara kalian” (Imam Bukhari: 1060, 2/705. Imam Muslim: 2119, 2/457)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)


Dalil Tuntunan Shalat Gerhana :
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَهَرَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ ، فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ ، وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ }. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ، وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ.وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : فَبَعَثَ مُنَادِيًا يُنَادِي : الصَّلَاةَ جَامِعَةً
Dari Aisyah radiyallahu’anha, sesungguhnya Rasulullah menyaringkan bacaan pada shalat gerhana, beliau shalat dua rakaat dengan empat kali rukuk dan empat kali sujud. (HR. Muslim)

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : { انْخَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا ، نَحْوًا مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الْقِيَام الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَفَعَ ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ انْصَرَفَ ، وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ }. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Dari Ibnu Abbas, radhiyallalhu’anhuma, ia berkata, telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw. Beliau berdiri (shalat gerhana) begitu lama, lamanya setara dengan membaca surat al Baqarah, kemudian beliau rukuk begitu lama, kembali lagi berdiri begitu lama, yaitu berdiri bukan yang pertama (maksudnya kedua), kembali rukuk begitu lama dan bukan rukuk yang pertama, kemudian beliau sujud. Kembali beliau berdiri begitu lama dan bukan berdiri yang pertama (maksudnya rakaat kedua) kemudian beliau rukuk begitu lama, kembali lagi berdiri begitu lama, yaitu berdiri bukan yang pertama (maksudnya kedua), kembali rukuk begitu lama dan bukan rukuk yang pertama. Beliau mengangkat kepala (i’tidal) kemuadian sujud. Beliau beranjak (dari tempat shalatnya) dan gerhana matahari telah selesai lantas beliaupun khutbah terhadap orang-orang (saat itu). (HR. Bukhari)

Hikmah Dibalik Peristiwa Gerhana:
1.Keduanya merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. (QS. Fushilat: 37)
2.Perhitungan waktu di bumi mengikuti perputaran matahari atau kita sebut kalender Masehi dan perhitungan waktu mengikuti perputaran bulan yang kita kenal dengan kalender Hijriyah. (QS. Yunus: 5) 
3.Memberi peringatan kepada manusia yang telah berbuat kerusakan. 
4.Kejadian Alam tidak ada hubungannya dengan kematian atau kelahiran seseorang. Seperti sangkaan orang jahiliyah saat itu, mereka mengira bahwa terjadinya gerhana karena meninggalnya Ibrahim, anak Rasullah Saw. Hal ini telah dibutkan dalan hadits Bukhari dan Muslim.
5.Gambaran siksa terhadap orang yang berdosa
6.Perintah banyak berdoa disebutkan dalam hadits Aisyah
7.Perintah shalat, seperti dijelaskan dalam hadits Abbas diatas bahwa Rasulullah melakukan shalat gerhana dengan panjang, satu rakaat lamanya setara dengan surat al Baqarah. Adapun tata cara shalat gerhana adalah dua rakaat dengan empat rukuk dan empat sujud sebagaimana dijelaskan dalam hadits Aisyah dan Ibnu Abbas. Baca kembali Shalat Gerhana. 
8.Perintah bersedekah sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah
9. Hikmah pendidikan. Bahwa proses terjadinya gerhana bisa dibuktikan secara ilmiah. Bukan dogeng orang jahiliyah, seperti bulan dimakan naga dan yang lainnya.

Hikmah peristiwa Gerhana.....

Hikmah Dibalik Peristiwa Gerhana

referensimuslim.com - Tentunya kita sebagai muslim mengambil hikmah dibalik peristiwa alam seperti ini, berikut adalah penjelasan dan hikmah mengenai peristiwa gerhana baik yang disebutkan dalam Al Quran ataupun hadits shahih.

Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tanggal 16 Juni 2011 akan terjadi gerhana bulan total terlama pada tahun ini sekitar satu jam setengah.Gerhana 16 Juni nanti akan dimulai pada pukul 01.23 WITA yang ditandai dengan masuknya Bulan ke bayangan penumbra Bumi. Perubahan yang terjadi adalah berkurangnya kecerlangan Bulan, namun kita tidak akan dapat membedakannya secara kasat mata. Lalu pada pukul 02.22 WITA Bulan akan masuk ke umbra Bumi. Tentunya kita sebagai muslim mengambil hikmah dibalik peristiwa alam seperti ini, berikut adalah penjelasan dan hikmah mengenai peristiwa gerhana baik yang disebutkan dalam Al Quran ataupun hadits shahih.

Dalil Gerhana Menurut al Quran dan As Sunnah: 
Allah berfirma: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak (penuh hikmah dan tidak sia-sia) dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui. (QS. Yunus: 5)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah. (QS. Fushilat: 37)

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : { انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَوْمَ مَاتَ إبْرَاهِيمُ ، فَقَالَ النَّاسُ : انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إبْرَاهِيمَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا ، فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ، وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ " حَتَّى تَنْجَلِيَ " 
وَلِلْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : " { فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ } "
Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw, yaitu pada hari wafat Ibrahim (anaknya), maka orang-orang (pada saat itu) berkata: telah terjadi gerhana matahari karena Ibrahim wafat. Lalu Rasulullah Saw bersabda: sesungguhnya matahari dan bulan diantara dua tanda kekuasaan Allah, bukan karena meninggal atau lahir seseorang, apabila kalian melihat keduanya (gerhana matahari dan bulan) berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga terbuka (gerhana tersebut selesai). HR. Muttafaq Alaih
Adapun menurut riwayat Imam Bukhari: “Hingga terang (kembali)”.
Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Bakrah radhialluhu’anhu: “Maka shalat dan berdoalah sampai terbuka (gerhana tersebut selesai) diantara kalian” (Imam Bukhari: 1060, 2/705. Imam Muslim: 2119, 2/457)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)


Dalil Tuntunan Shalat Gerhana :
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَهَرَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ ، فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ ، وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ }. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ، وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ.وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : فَبَعَثَ مُنَادِيًا يُنَادِي : الصَّلَاةَ جَامِعَةً
Dari Aisyah radiyallahu’anha, sesungguhnya Rasulullah menyaringkan bacaan pada shalat gerhana, beliau shalat dua rakaat dengan empat kali rukuk dan empat kali sujud. (HR. Muslim)

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : { انْخَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا ، نَحْوًا مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الْقِيَام الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَفَعَ ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ انْصَرَفَ ، وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ }. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Dari Ibnu Abbas, radhiyallalhu’anhuma, ia berkata, telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw. Beliau berdiri (shalat gerhana) begitu lama, lamanya setara dengan membaca surat al Baqarah, kemudian beliau rukuk begitu lama, kembali lagi berdiri begitu lama, yaitu berdiri bukan yang pertama (maksudnya kedua), kembali rukuk begitu lama dan bukan rukuk yang pertama, kemudian beliau sujud. Kembali beliau berdiri begitu lama dan bukan berdiri yang pertama (maksudnya rakaat kedua) kemudian beliau rukuk begitu lama, kembali lagi berdiri begitu lama, yaitu berdiri bukan yang pertama (maksudnya kedua), kembali rukuk begitu lama dan bukan rukuk yang pertama. Beliau mengangkat kepala (i’tidal) kemuadian sujud. Beliau beranjak (dari tempat shalatnya) dan gerhana matahari telah selesai lantas beliaupun khutbah terhadap orang-orang (saat itu). (HR. Bukhari)

Hikmah Dibalik Peristiwa Gerhana:
1.Keduanya merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. (QS. Fushilat: 37)
2.Perhitungan waktu di bumi mengikuti perputaran matahari atau kita sebut kalender Masehi dan perhitungan waktu mengikuti perputaran bulan yang kita kenal dengan kalender Hijriyah. (QS. Yunus: 5) 
3.Memberi peringatan kepada manusia yang telah berbuat kerusakan. 
4.Kejadian Alam tidak ada hubungannya dengan kematian atau kelahiran seseorang. Seperti sangkaan orang jahiliyah saat itu, mereka mengira bahwa terjadinya gerhana karena meninggalnya Ibrahim, anak Rasullah Saw. Hal ini telah dibutkan dalan hadits Bukhari dan Muslim.
5.Gambaran siksa terhadap orang yang berdosa
6.Perintah banyak berdoa disebutkan dalam hadits Aisyah
7.Perintah shalat, seperti dijelaskan dalam hadits Abbas diatas bahwa Rasulullah melakukan shalat gerhana dengan panjang, satu rakaat lamanya setara dengan surat al Baqarah. Adapun tata cara shalat gerhana adalah dua rakaat dengan empat rukuk dan empat sujud sebagaimana dijelaskan dalam hadits Aisyah dan Ibnu Abbas. Baca kembali Shalat Gerhana. 
8.Perintah bersedekah sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah
9. Hikmah pendidikan. Bahwa proses terjadinya gerhana bisa dibuktikan secara ilmiah. Bukan dogeng orang jahiliyah, seperti bulan dimakan naga dan yang lainnya.

Sunday, 4 December 2011

HIkmAH Di bULaN mUHaRAm...:))

Pertama:Semangat Hijrah
Setiap memasuki tahun baru Islam, kita hendaknya memiliki semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik. Kita seharus merenung kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah.
Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama ‘Tahun Muhammad’ atau ‘Tahun Umar’. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).
Tidak juga seperti sistem penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami (dewa matahari) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang
dianggap keturunan Dewa Matahari, yakni Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 pebruari 660 M yang dijadikan awal perhitungan Tahun Samura) Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka.
Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya ia berambisi untuk mengabadikan namanya dengan menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar sangatlah mudah
baginya melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu.
Ia malah menjadikan penanggalan itu sebagai zaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Selain Umar, orang yang
berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Beliaulah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).
Dalam sejarah hijrah nabi dari Makkah ke madinah terlihat jalinan ukhuwah kaum Ansor dan Muhajirin yang melahirkan integrasi umat Islam yang sangat kokoh. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani. Bisa dimengerti, jika umat Islam dewasa ini tidak disegani musuh-musuhnya, menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain, antara lain akibat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak seerat kaum Mujahirin-Anshar.
Dari situlah mengapa konsep dan hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan diamalkan oleh umat Islam. Setiap pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan harapan baru akan keadaan yang lebih baik. Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Hadis Rasulullah yang sangat populer menyatakan, ”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung”.
Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.” Oleh karena itu, sesuai dengan firman Allah:
”Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat) dan bertakwalah, sesungguhnya Allah maha tahu dengan apa yang kamu perbuatkan”. (
QS. Al-Hasyar: 18).


Karakteristik Kedua: Di sunnahkan berpuasa
Pada zaman Rasulullah, orang Yahudi juga mengerjakan puasa pada hari ‘asyuura. Mereka mewarisi hal itu dari Nabi Musa AS.
Dari Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa.
Rasulullah SAW bertanya, “Hari apa ini?
Mengapa kalian berpuasa?” Mereka menjawab, “Ini hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa. “Rasulullah SAW bersabda, “Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian.” (HR. Abu Daud).
Puasa Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan.
Rasululllah SAW bersabda:
Dari Abu Hurairah RA, Rasululllah SAW bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa ramadhan adalah puasa dibulan muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim, Abu Daud, Tarmizi, dan Nasa’ ).
Puasa pada bulan Muharam yang sangat dianjurkan adalah pada hari yang kesepuluh, yaitu yang lebih dikenal dengan istilah ‘asyuura.
Aisyah RA pernah ditanya tentang puasa ‘asyuura, ia menjawab, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW puasa pada suatu hari yang beliau betul-betul mengharapkan fadilah pada hari itu atas hari-hari lainnya, kecuali puasa pada hari kesepuluh Muharam.” (HR Muslim).
Dalam hadits lain Nabi juga menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘asyura (10 Muharram) bisa menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.
Dari Abu Qatadah RA, Rasululllah SAW ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: ”Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat” (HR. Muslim).
Disamping itu disunnahkan untuk berpuasa sehari sebelum ‘Asyura yaitu puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram, sebagaimana sabda Nabi SAW yang termasuk dalam golongan sunnah hammiyah (sunnah yang berupa keinginan/cita2 Nabi tetapi beliau sendiri belum sempat melakukannya):
Ibnu Abbas RA menyebutkan, Rasulullah SAW melakukan puasa ‘asyuura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat berkata,
“Ini adalah hari yang dimuliakan orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Tahun depan insya Allah kita juga akan berpuasa pada tanggal sembilan Muharam.” Namun, pada tahun berikutnya Rasulullah telah
wafat. (HR Muslim, Abu Daud).
Berdasar pada hadis ini, disunahkan bagi umat Islam untuk juga berpuasa pada tanggal sembilan Muharam. Sebagian ulama mengatakan, sebaiknya puasa selama tiga hari: 9, 10, 11 Muharam.
Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Puasalah pada hari ‘asyuura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Puasalah sehari sebelum ‘asyuura dan sehari sesudahnya.” (HR Ahmad).
Ibnu Sirrin berkata: melaksanakan hal ini dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharam. Boleh jadi yang kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh. (Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab VI/406) .
Mudah-mudahan dengan masuknya awal tahun baru hijriyah ini, kita bisa merancang hidup kita kedepan agar lebih baik dan bermanfaat bagi umat manusia, yakni mengubah perilaku buruk menjadi baik, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
(disadur dan diolah dari pesantrenvirtual.com)

Saturday, 3 December 2011

Tanda2 aJAl hamPIR menJEmPuT kITE.............

ajal maut d tangan tuhan....tapi pernahkah kite semua ambil tau tanda2 kmatian? bukannya apa, biarlah kite bersedia untuk menghadapinya....
tanda2 nye :

1. 100 hari sebelum kematian.
-tanda ini berlaku selepas waktu asar. Seluruh tubuh dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran. seolah2 menggigil.

2. 40 hari sebelum kematian.
-juga terjadi selepas waktu asar. bahgian pusat akan berdenyut2.pada ketika ini, daun yg tertulis nama kita pada pohon yg terletaknya Arasyh Allah.Maka malaikat maut akan mengambil daun itu dan akan membuat persediaan utk mengambil nyawa kita dan mengikut kemana saja kite pergi. malaikat maut mampu memperlihatkan wajahnya sehingga menyebabkan seseorang itu menjadi bingung pabila melihatnya.

3. 7 hari sebelum kematian.
-tiba2 berselera makan.

4. 3 hari sebelum kematian.
-dahi kiri dan kanan seolah2 berdenyut2.mata hitam x lagi bersinar,,hidung akan layu.

5. 1 hari sebelum kematian.
-akan berlaku selepas waktu asar dimana kita akan merasa denyutan d bahagian belakang d bahagian ubun2 yg menandakan kite x kan sempat utk menemui asar keesokannya.

6. Tanda akhir.
-merasa dingin d bahagian pusat dan ia akan turun ke bahagian pinggang dan seterusnya ke bahagian halkum. Ketika ini, hendaklah kite mengucap 2 kalimah syahadah kerana MALAIKAT MAUT bakal menjemput kite.

Semoga kite insaf......ingt kematian...bakal menjemput....xkn lewat sesaat...atau awal sesaat.....

Monday, 28 November 2011

amalan sunat di bulan Muharam...

Tanggal 1 hingga 9hb disunatkan puasa (Puasa Tasua')
Tanggal 10hb disunatkan puasa (Puasa Asyura)
Dalam bulan ini disunatkan agar memperbanyakkan amalan bersedekah kepada fakir miskin.
Disunatkan juga supaya melebihkan perbelanjaan dalam keluarga.
Mengusap kepala anak yatim dan menaruh belas kasihan terhadap mereka.
Memperbanyakkan bacaan zikir dan salawat
Sesiapa yang berbuat baik kepada anak yatim, seolah-olah dia berbuat baik kepada semua anak yatim.
Sesiapa yang bersedekah pada waktu itu, seolah-olah ia tidak pernah menolak permintaan orang yang meminta-minta selama hidupnya. 


Jadi....Marilah kita bersama-sama mempertingkatkan amal ibadah dan keimanan kita pada Allah SWT. InsyaAllah...Semoga kita semua mendapat keberkatannya. Amin. Amin . Ya Rabbal Alamin....


Sunday, 23 October 2011

Ayat Seribu Dinar....



Firman Allah SWT yang bermaksud :
{2}……dan sesiapa yang bertakwa kepada Allah (dengan mengerjakan 

suruhanNya dan meninggalkan laranganNya), nescaya Allah akan mengadakan 
baginya jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya),
{3} Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas di hatinya dan (Ingatlah),

 sesiapa berserah diri bulat-bulat kepada Allah, maka Allah cukuplah baginya (untuk 
menolong dan menyelamatkannya). Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala 
perkara yang dikehendakiNya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi 
berlakunya tiap-tiap sesuatu.
Diceritakan bahawa seorang saudagar telah membayar sebanyak seribu dinar untuk 

mendapat ayat ini yang dikatakan fadhilatnya ialah mendapat menyelamatkan 
pembacanya dari malapetaka. Di dalam perjalanan pulang, kapal saudagar ini telah 
dipukul ombak dan beliau terus membaca ayat tersebut. Dengan izin Allah SWT, 
hanya beliau seorang saja yang terselamat dari bencana itu. 
Di antara kelebihan dan fadhilat ayat seribu dinar ini ialah :
* Di baca apabila kita hendak bertawakkal terhadap sesuatu perkara.
* Menghilangkan keresahan bila di baca di waktu resah.
* Di baca ketika hendak menaiki kenderaan
* Jikalau dibaca ayat ini kepada orang yang sedang sakit sebanyak 3 kali dan 

dihembuskan kepada si pesakit itu dan di jampi pada air sebanyak 3 kali diberi 
minum, insya’Allah si pesakit akan sembuh.



Wednesday, 19 October 2011

Keberanian dan Ketabahan Rasulullah





E-mail
Written by Administrator   
Friday, 27 February 2009 00:58

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mempunyai keberanian yang mengagumkan
dan tiada tandingannya dalam membela agama dan menegakkan kalimatullah
Ta'ala. Beliau mempergunakan nikmat-nikmat Allah Ta'ala yang dicurahkan
atas beliau pada tempat yang semestinya. 'Aisyah radhiyallahu 'anha telah
mengungkapkan hal itu dalam sebuah hadits:

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul
seorangpun kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita." (HR. Muslim)

Di antara bukti keberanian beliau adalah kegigihan beliau dalam mendakwahkan
agama Islam seorang diri menghadapi kaum kafir Quraisy dan pemuka-pemuka-nya.
Demikian juga keteguhan beliau di atas keyakinan tersebut hingga Allah menurunkan
pertolongan-Nya. Beliau tidak pernah mengeluh atau berkata: "Tidak ada yang sudi
menyertaiku, sedangkan orang-orang semuanya memusuhiku." Akan tetapi beliau
bersandar serta bertawakkal kepada Allah dan tetap meneruskan perjuangan
dakwah beliau.

Beliau adalah seorang pemberani dan sangat teguh dalam memegang dan
melaksanakan pendirian. Ketika orang-orang lari bercerai berai, beliau tetap
teguh bagaikan karang.

Beliau mengasingkan diri untuk beribadah di gua Hira' selama beberapa tahun.
Kala itu beliau belum merasakan gangguan dan orang-orang Quraisy pun belum
memerangi beliau. Kaum kafir itu tidak menembakkan sebatang anak panah
pun dari busurnya kecuali setelah beliau menyebarkan aqidah tauhid dan
memerintahkan untuk memurnikan ibadah mereka kepada Allah semata.
Beliau sangat mengherankan ucapan kaum kafir sebagaimana yang difirmankan
Allah :
"Katakanlah: "Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau
siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan
siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan
yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan"
Maka mereka menjawab:"Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak
bertaqwa (kepada-Nya)?" (Yunus: 31)

Sementara itu mereka menjadikan berhala-berhala sebagai perantara antara mereka
dengan Allah . Sebagaimana yang Allah firmankan:
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak
menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah
dengan sedekat-dekatnya". (Az-Zumar: 3)

Padahal mereka juga meyakini tauhid Rububiyah, sebagaimana yang diungkapkan
Allah , artinya:
"Katakanlah: "Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?"
mereka akan menjawab: "Allah".

Wahai saudaraku, lihatlah praktek-praktek syirik yang bertebaran di seantero
negeri-negeri kaum muslimin, seperti memohon kepada orang yang sudah
mati, bertawassul dengan perantaraan mereka, bernadzar karena mereka, takut
serta mengharap kepada mereka. Sampai-sampai terputus hubungan antara
mereka dengan Allah Ta’ala disebabkan kemusyrikan yang mereka lakukan.
Mereka telah menempatkan orang-orang yang sudah mati setara dengan
kedudukan Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (se-suatu dengan) Allah,
maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." (Al-Maidah: 72)

Sekarang kita beranjak dari rumah beliau menuju gunung yang berada di
sebelah utara. Itulah gunung Uhud, disitulah terjadi peristiwa besar yang
menunjukkan keperkasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan
keteguhan serta kesabaran beliau atas luka yang diderita pada peperangan
tersebut. Pada waktu itu wajah beliau yang mulia terluka dan beberapa
gigi beliau patah serta kepala beliau terkoyak.

Sahal bin Sa'ad t menceritakan kepada kita tentang luka yang diderita beliau .
Ia berkata: "Demi Allah, aku benar-benar mengetahui siapakah yang
mencuci luka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, siapakah yang
menyiramkan airnya dan dengan apa luka itu diobati." Ia melanjutkan:
"Fathimah radhiyallahu 'anha putri beliaulah yang mencuci luka tersebut,
sementara Ali bin Abi Thalib Radhiallahu'anhu menyiramkan airnya dengan
perisai. Namun ketika Fathimah radhiyallahu 'anha melihat siraman air tersebut
hanya menambah deras darah yang mengucur dari luka beliau, ia segera
mengambil secarik tikar lalu membakarnya kemudian membungkus luka
tersebut hingga darah berhenti mengucur. Pada peristiwa itu gigi beliau patah,
wajah beliau terluka dan kepala beliau terkoyak lebar." (HR. Al-Bukhari)

Al-Abbas bin Abdul Muththalib radhiallaahu anhu menceritakan
kepahlawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam peperangan
Hunain. Ia berkata: "Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam justru memacu bighalnya ke
arah pasukan kaum kafir, sementara aku terus memegang tali kekang
bighal tersebut supaya tidak melaju dengan cepat. Saat itu beliau berkata:
"Aku adalah seorang nabi bukanlah pendusta. Aku adalah cucu Abdul
Muththalib." (HR. Muslim)

Sementara itu, penunggang kuda yang gagah berani, yang sudah
masyhur dan terkenal dengan kisah-kisah kepahlawanannya,
yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiallahu'anhu menceritakan keberanian
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai berikut: "Apabila dua pasukan
sudah saling bertemu dan peperangan sudah demikian sengit, kamipun
berlindung di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tidak ada
seorangpun yang paling dekat kepada musuh daripada beliau."
(HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah , silakan lihat di dalam Shahih Muslim
III / no.1401)

Kesabaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam e dalam menyebarkan dakwah
pantas dijadikan contoh dan teladan yang baik. Hingga akhirnya Allah
Ta'ala menegakkan pilar-pilar Islam dan melebarkan sayapnya di segenap
pelosok jazirah Arab, negeri Syam dan negeri-negeri di seberang sungai
Tigris. Hingga tidak tersisa satu rumahpun kecuali telah dimasuki cahaya Islam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror dan ancaman karena
membela agama Allah . Dan tidak ada seorangpun yang mendapat teror
seperti itu. aku telah mendapat berbagai macam gangguan karena
menegakkan agama Allah . Dan tidak seorangpun yang mendapat gangguan
seperti itu. Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam, aku dan
Bilal tidak mempunyai sepotong makanan pun yang layak untuk dimakan
manusia kecuali sedikit makanan yang hanya dapat dipergunakan untuk
menutupi ketiak Bilal." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Walaupun harta dan ghanimah serta perbenda-haraan dunia dari kemenangan
yang diberikan Allah kepada beliau terus mengalir, namun Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam tidak mewariskan sesuatupun kepada umatnya, tidak dinar
maupun dirham, beliau hanya mewariskan ilmu. Itulah warisan nubuwat,
barangsiapa yang ingin mengambilnya, maka silakan maju untuk
mengambilnya dan selamat berbahagia menerima warisan yang agung itu.

'Aisyahradhiyallahu 'anha menuturkan:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak meninggalkan dinar, tidak
pula dirham, tidak meninggalkan kambing, tidak pula unta. Beliau
tidak mewasiatkan harta apapun." (HR. Muslim) 

Thursday, 6 October 2011

Kebahagiaan Para Sahabat bersama Rasulullah..



بسم الله الرحمن الرحيم

RASULULLAH s.a.w. diutuskan kepada umat manusia dengan membawa pesan dakwah Rabbaniyyah dan tidak memiliki propaganda apa pun tentang tujuan duniawi. Maka kita melihat bahawa beliau s.a.w. tidaklah memiliki gudang harta, hambaran kebun yang luas dan tidak pula tinggal di istana megah layaknya para raja dan pemimpin.

Saat pertama kali beliau menampakkan dakwah dan menyeru masyarakat kala itu untuk beriman, hanya beberapa orang saja yang telah diberi hidayah oleh Allah yang mencintainya yang bersumpah setia untuk mengikuti ajaran mulia yang dibawanya.

Mereka para sahabat yang jumlahnya sedikit saat itu tetap teguh memegang janji meskipun pelbagai kesulitan dan ancaman datang bertubi-tubi. Begitulah, kekuatan iman dan mahabbah (cinta) mereka kepada Nabi Muhammad s.a.w. Saat jumlah mereka masih sedikit, masih lemah dan selalu diliputi ancaman orang-orang di sekitarnya, mereka tetap teguh mencintai Rasulullah s.a.w.

Di antara mereka ada yang dipinggir oleh keluarganya, disingkirkan oleh masyarakatnya, dipersulit perekonomiannya, dicemarkan nama baiknya, dijatuhkan martabat dan derajatnya di depan khalayak, diusir dari kampung halaman bahkan tidak sedikit yang merasakan seksa orang-orang kafir, seperti Bilal bin Rabah misalnya yang diseksa oleh tuannya Umayyah dalam terik matahari di atas pasir sahara yang panas lalu dadanya ditindih dengan batu besar. Demikian pula dengan sahabat ‘Ammar, ayahnya Yasir dan ibunya Sumayyah mati syahid di tangan penyeksaan di hadapan dirinya. Dan masih banyak contoh lain. Namun, meskipun demikian, kecintaan dan pengorbanan mereka terhadap Rasulullah s.a.w. tak goyah sedikit pun, justeru dengan itu semua makin kuat dan mantap keimanan dan kecintaan mereka.

Kaum Mukminin seringkali mendapat cubaan saat menjalankan dakwah. Mereka tidak hanya dibatasi ruang geraknya, tetapi keluarga dan diri mereka diancam akan dibunuh, bahkan adakalanya mereka harus rela dan sabar menanggung kesengsaraan dan penderitaan yang cukup lama. Namun mereka tetap berprasangka baik kepada Allah dan tetap mencintai kekasih Allah, Rasulullah s.a.w. Di samping beliau selalu memberikan dorongan dan semangat dengan janji-janji Allah dan syurga yang telah dipersiapkan untuk mereka.

Tak sedikit sahabat muda yang tak sempat menikmati masa mudanya layaknya anak muda yang lain. Kerana mereka senantiasa ikut berperang berjihad bersama Rasulullah s.a.w., di bawah bayang-bayang kilatan pedang, demi membela keyakinan, keimanan dan kecintaan mereka yang tulus. Tentang mereka ini pernah dikatakan: “Kilatan pedang-pedang itu laksana bayangan bunga di kebun hijau, dan menebarkan bau wangi yang semerbak.”

Begitulah, pada masa itu para pemuda siap berangkat ke medan perang dan menjemput maut, yang ertinya adalah syurga dan redha Allah. Meskipun demikian, mereka tidak gentar sedikit pun dan justeru memandang perjuangan di medan perang itu laksana sebuah wisata atau pesta di malam hari raya, mengandung kesenangan dan kenikmatan tersendiri menurut pandangan mereka. Dan itu tak lain juga didorong oleh kecintaan mereka terhadap Rasulullah s.a.w.

Mereka bahagia hidup bersama beliau, walaupun kadangkali harus menahan lapar dan haus beberapa hari. Mereka merasakan nikmat dengan memandang dan berbicara dengan beliau, sekalipun kadang keluarga dan kerabat mereka tidak punya. Mereka akan menuruti dan tunduk terhadap apa yang diperintahnya. Mereka melakukan apa yang beliau lakukan, meninggalkan apa yang beliau tinggalkan, menjauhi apa yang beliau jauhi, sungguh kecintaan yang sejati yang terpatri dalam sanubari. Semoga keredhaan Allah selalu meliputi mereka.

Syahdan, seorang sahabat pernah diutus oleh beliau untuk masuk ke kandang musuh dan menghantarkan surat kepada mereka. Padahal dia sedar bahawa kemungkinan dirinya tidak selamat. Namun ternyata tugas ini tetap dikerjakannya. Ada pula seorang sahabat yang ketika diminta menjalankan suatu tugas, dia menyedari bahawa tugas itu adalah tugasnya yang terakhir. Namun dia tetap berangkat dengan gembira.

Mengapa mereka para sahabat itu, sedemikian rupa mencintai Rasulullah saw? Mengapa mereka sangat bahagia dengan Risalah yang dibawanya, merasa tenteram dengan manhaj (jalan)nya, sangat gembira menyambut kedatangannya dan mampu melupakan semua rasa sakit, kepedihan, kesulitan, tentangan dan ancaman yang dulu pernah menimpa mereka, demi mengikuti Rasulullah s.a.w.?

Jawapannya adalah kerana mereka melihat pada diri Nabi Muhammad s.a.w. terdapat semua makna kebaikan dan kebahagiaan. Juga tanda-tanda kebajikan dan kebenaran. Beliau mampu menjadi penunjuk jalan bagi siapa saja dalam pelbagai masalah besar. Bahkan dengan sentuhan lemah lembut dan kasih sayangnya beliau mampu memadamkan semua gejolak hati mereka. Dengan ucapannya, beliau mampu menyejukkan isi hati siapa saja. Dan dengan risalahnya, beliau mampu menyejukkan dan menyenangkan jiwa mereka.

Rasulullah s.a.w. juga berhasil menusukkan kerelaan pada jiwa setiap sahabatnya. Maka tidak mustahil bila mereka tidak lagi memperhitungkan pelbagai rintangan yang menghadang jalan dakwah mereka. Sebab, kukuhnya keyakinan yang ada dalam dada mereka telah melupakan semua luka, tekanan dan kesengsaraan itu.

Beliau berhasil meluruskan hati nurani mereka dengan tuntunannya, menyinari mata hati mereka dengan cahayanya, menyingkirkan belenggu-belenggu jahiliyah dan menanggalkan semua kalung kemusyrikan dari leher mereka. Dan lebih dari itu beliau berhasil menyirami hati-hati mereka dengan air iman dan keyakinan, sehingga hati dan jiwa mereka senantiasa sejuk dan damai selalu.

Ada banyak faktor yang membuat kecintaan sahabat begitu besar terhadap Rasulullah s.a.w. Di antaranya, saat bersama beliau mereka selalu merasakan kenikmatan hidup yang sejati, saat berada dekat dengannya mereka merasakan hangatnya kasih sayang dan ketulusan hati, saat berada di bawah payung ajaran dan dakwahnya mereka merasakan ketenteraman dan kedamaian, dengan mematuhi perintahnya mereka mendapatkan keselamatan dan dengan meneladani sunnah-sunnahnya mereka mendapatkan kekayaan batin.

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an (yang ertinya): “Dan tidaklah Kami utus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai Rahmat untuk sekalian alam” (QS. Al Anbiyaa’:107)

Sungguh, mereka para sahabat, pencinta Nabi Muhammad yang sejati benar-benar menjadi orang yang bahagia dalam erti yang sebenarnya. Mereka menyaksikan semua yang dilakukan oleh kekasih mereka dan meneladaninya. Maka, sangatlah pantas mereka berbahagia dan bergembira. Sekian...

[ Salam dari Shah Alam 14/11/11 ]

Sumber : Ustaz Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus

Monday, 26 September 2011

Taubat Nasuha

Taubat Nasuha Cetak E-mail
Ditulis oleh Dewan Asatidz   
Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.

Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: "Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)."

Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat. Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160 "Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah: 222, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: "SesungguhnyaAllah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat."

Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.

Tepatlah kiranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 133, "Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat Nasuha", yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'".

Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan brejanji untuk tidak melakukannya lagi di masa medatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, "Apakah penyesalan itu taubat?", "Ya", kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah). Amr bin Ala pernah mengatakan: "Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya".


Friday, 23 September 2011

Jaga Tujuh Sunnah Rasulullah.....


Kiriman : Bpk. Martha Bachtiar
nabawi.jpgCerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat, yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah cerita dalam akhir hidup, tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.
Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:
PertamaTahajjud
karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.
Keduamembaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.
Ketiga, jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.
Keempat, jaga shalat Dhuha
karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.
Kelima, jaga sedekah setiap hari.
Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.
Keenam, jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya Allah”.

Ketujuh, amalkan istighfar setiap saat.

Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.
Dzikir, kata Arifin Ilham, adalah bukti syukur kita kepada Allah. Bila kita kurang bersyukur, maka kita kurang berdzikir pula, oleh karena itu setiap waktu harus selalu ada penghayatan dalam melaksanakan ibadah ritual dan ibadah ajaran Islam lainnya.
Dzikir merupakan makanan rohani yang paling bergizi,” katanya, dan dengan dzikir berbagai kejahatan seperti narkoba, KKN, dan lainnya dapat ditangkal sehingga jauhlah umat manusia dari sifat-sifat hewani yang berpangkal pada materialisme dan hedonisme.
Oleh : HM Arifin Ilham